Jambione.com, JAMBI - Anggota DPRD Provinsi Jambi, H Kemas Alfarabi, Minggu (8/2) malam kemarin, menjadi narasumber di acara Talkshow bertemakan "Kebudayaan Melestarikan Kemanusiaan" yang diselenggarakan PMII Komisariat Universitas Jambi (Unja) bersama Gusdurian Jambi.
Talkshow ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Haul Gusdur ke 10 sekaligus Hari lahir (Harla) NU ke 94. Kegiatan ini dihadiri puluhan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi kemahasiswaan seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Jambi.
Mengikuti Talkshow tersebut, mahasiswa tampak antusias mendengarkan materi yang disampaikan Kemas Alfarabi. Dikesempatan itu, Kemas Alfarabi menyampaikan beberapa hal kepada mahasiswa untuk mampu meneladani sosok Gusdur.
Diungkapkanya, banyak hal yang patut dicontoh dari Gusdur diantaranya adalah perjalanan akademiknya, serta gerakan politik Gusdur sehingga ia mampu menduduki kursi orang nomor satu di republik ini.
Kemas Alfarabi, mengungkapkan bahwa semasa hidup Gusdur yang ia kenal, Gusdur adalah seorang Kyai, cendekia, budayawan, aktivis LSM sekaligus politisi yang negarawan. Hidupnya didedikasikan untuk memperjuangkan demokrasi, kemanusiaan dan pembela kelompok minoritas.
Sebagai cendikiawan Gusdur telah mengembangkan wacana tradisi intelektual baru, seperti bahtsul-kitab dan halaqah sebagai ajang diskusi berbagai topik masalah aktual.
Diungkapkan Alfarabi lagi, tiga faktor yang memfasilitasi kebangkitan generasi muda NU. Pertama tradisi keilmuan yang diformulasi dalam kerangka paradigma tradisionalisme Mazhabiyah. Kedua kehadiran warisan budaya dalam wujud pesantren sebagai lembaga pendidikan. Ketiga Gusdur tidak hanya sebagai pemimpin agama tapi juga pemimpin masyarakat.
Kepada mahasiswa, anggota Komisi I DPRD Provinsi Jambi itu menyatakan bahwa, saat ini telah terjadi gejolak sosial dikalangan masyarakat, seperti banyaknya muncul paham-paham agama baru dan adanya kelompok masyarakat yang membentuk kerajaan-kerajaan baru. Fenomena ini tentu akan merusak akidah keislaman dan keindonesiaan ditengah masyarakat dan ini sangat bertentangan dengan NU.
“Mengatasi persoalan ini, warga nahdiyin harus mampu menjaga kebudayaan Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) dengan 4 cara, yaitu pertama Tawasuth, Moderat dan I'tidal atau adil dan menghindari sikap tatharruf atau ekstrim. Kedua Tasamuh atau toleran. Ketiga tawazun atau seimbang. Keempat amar ma'ruf nahi mungkar,” kata Kemas Alfarabi.
Sebagai wakil rakyat dan tokoh muda NU, Kemas Alfarabi memiliki komitmen kuat dalam menjaga tradisi dan kebudyaan Aswaja. Namun baginya, itu tidak akan mampu dilakukan tanpa dukungan dari seluruh warga nahdiyin dan kader-kader PMII serta seluruh masyarakat Provinsi Jambi. Dan terpenting lagi adalah penguatan ilmu agama di Pondok Pesantren sebagai benteng NU dalam melesatarikan paham Aswaja.
“Kelestarian paham aswaja tidak dapat dipisahkan dari peranan pesantren yang merupakan benteng NU, Kyai sebagai tokoh tradisionalis meneruskan ajaran aswaja dan membentengi berbagai paham yang bertentangan dengan NU. Selain itu mempersiapkan santri menjadi kader dan penerus mata rantai penyebaran kepada generasi berikutnya,” tegas Kemas Alfarabi.
Sementara itu, Kemas Alfarabi juga menyampaikan apresiasinya kepada pengurusan PMII Komisariat UNJA dan Gusdurian Jambi yang melaskanakan Talkshow tentang Kebudayaan NU dan Haul Gusdur. Ia berharap kegiatan ini bisa terus dilanjutkan dan selanjutnya dapat ditingkatkan. “Saya berharap kegiatan seperti ini menular kepada pengurus PMII yang lain, artinya tidak hanya di UNJA tetapi juga Perguruan Tinggi lainnya,” harapnya. (rey)