JAMBI- Kapolda Jambi Irjen Pol Muchlis AS geram dengan maraknya aktivitas Penambangan Tanpa Izin (PETI) di sejumlah kabupaten di Provinsi Jambi. Apalagi para pelaku PETI tersebut kian berani. Bahkan sudah tidak mengindahkan lagi instruksi bupati. Padahal korban akibat tambang ilegal itu terus berjatuhan. Di Bungo misalnya. Minggu, 28 Juli lalu dua penambang tewas tertimbun longsor.
‘’ Saya sudah instruksikan kepada semua kapolres untuk menindak tegas para pelaku PETI tersebut. Menurut dia, para pelaku PETI kian berani dan terang terangan melakukan aksinya.Ini harus ditindak tegas,”kata Muchlis di Polda Jambi, Selasa (30/7) kemarin.
Khusus kejadian di Bungo, dua penambang tewas tertimbun, Muchlis mengaku sudah memerintahkan Kapolres Bungo untuk mengambil tindakan tegas dan melakukan penyelidikan.
“Saya sudah perintahkan kapolres Bungo untuk menyelesaikan permasalahan yang baru saja terjadi. Ini harus diselidiki dan dituntaskan,’’ katanya lagi.
Selain itu, Muchlis juga menghimbau dan meminta kesadaran masyarakat untuk bersama sama memantah dan menghentikan aktivitas PETI. Sebab, kata dia, menyelesaikan masalah PETI ini tidak bias hanya dilakukan melalui penegakan hokum saja.
“ Itu (PETI) aktivitas sangat berbahaya. Tidak hanya bagi penambangnya, tapi juga bagi semua masyarakat. Karena PETi itu mengeluarkan limbah yang beracun jika masuk ke dalam tubuh. Makanya, polisi tidak bisa bekerja seorang diri. Dukungan dan partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan,” jelasnya.
Seperti diberitakan, dua orang penambang di Bungo tewas tertimbun tanah lubang galiannya sendiri di Dusun Sungai Arang, Kecamatan Bungo Dani, Minggu (28/7) sekitar pukul 17.00 WIB. Kedua korban adalah Holil (45) warga Dusun Sungai Arang dan Ibrahim (45) warga Dusun Mangun Jayo.
Saat kejadian kedua korban tengah membersihkan lubang galian dompeng bersama beberapa penambang lainnya. Letak lubang galian tersebut berada di bawah tebing dengan ketinggian sekitar 4 meter. Tiba tiba tebing longsor dan menimbun kedua korban dalam lubang.
Kedua korban tertimbun ketika sedang melakukan aktivitas di lokasi galian PETI atau dompeng. Kedua korban sempat dilarikan ke Puskesmas terdekat. Namun, nyawanya tak tertolong.
Sementara itu di Merangin, aktivitas PETI di Kecamatan Siau juga makin gila gilaan. Bahkan instruksi Bupati Merangin, Al Haris agar alat berat dikeluarkan dari lokasi, tak diindahkan. Alih-alih mengeluarkan, cukong PETI malah memasukkan alat berat lain ke lokasi. Kondisi ini sudah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.
Camat Siau, Junaidy, saat dikonfirmasi media melalui handphone malah mengatakan belum ada laporan kades setempat. Camat malah minta awak media menanyakan ke pihak Polsek Siau. Sebelumnya sesuai instruksi bupati, para kades dan camat ditenggat harus mengeluarkan alat berat dari lokasi PETI.
Informasi warga sekitar, hingga kini aktivitas PETI masih berlangsung. Malah semakin menjadi-jadi. Bahkan menurut warga beberapa hari lalu terpantau ada beberapa alat berat yang baru masuk di wilayah Siau. Masyarakat Siau menyebut jika kegiatan yang dilakukan oleh cukong PETI itu sudah keterlaluan.
Mereka tidak lagi menghiraukan imbauan Bupati Merangin Al Haris untuk mengeluarkan alat dan berhenti melakukan aktivitas tambang. "Ini sudah meremehkan bupati. Bupati minta keluar, malah mereka sengaja memasukkan alat," kata HS warga Siau.
Laporan yang dia terima, saat ini setidaknya ada lebih kurang empat alat jenis ekskavator yang baru masuk, dan itu terpantau di desa Rantau Panjang, Siau.
"Lokasi penambangan di sungai Arai," Pungkasnya.(isw/yad/lil)