JAMBI – Pihak kepolisian dinilai lamban menangani sejumlah kasus penyerangan yang dilakukan kelompok Serikat Mandiri Batanghari (SMB). Padahal, ulah sekelompok massa yang berkonflik dengan PT Wirakarya Sakti (WKS) itu sudah sangat meresahkan dan banyak menimbulkan korban.
Penilaian ini disampaikan, Kepala Desa Sengkati Baru, Hendrianto yang menjadi salah satu korban penyerangan yang dilakukan massa SMB. Bahkan dia menyebut SMB sangat brutal dan sudah seperti Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).
"Saya hampir mati untung. Untung yang di atas masih melindungi saya. Mereka membawa kecepek (senjata rakitan) dengan massa mencapai ratusan dilengkapi berbagai jenis senjata ada bambu runcing," katanya kepada wartawan dalam jumpa pers di café Nusa Wijaya sambari menunjukan luka di bagian dada tangan dan kepala bagian belakang, Rabu (17/7) kemarin.
Dia sangat menyayangkan lambannya proses hukum yang dilakukan pihak Kepolisan Polres Batanghari. "Saya langsung lapor ke Polres waktu itu habis kejadian. Saya juga heran, mereka itu (SMB) jelas jelas menggunakan senjata api (senpi), tapi kok tidak ditangkap sampai sekarang,"ujarnya.
Dia mengungkapkan, penyerangan terhadap dirinya terjadi pada Rabu (10/7) lalu saat dirinya dan masyarakat akan melakukan pengecekan lahan koperasi yang harus ditanami. "Waktu itu kita bawa trukkan mau ke lokasi lahan yang di beri menteri IUP untuk di kelola oleh koperasi desa yang berbatasan dengan Distrik VIII WKS," sebutnya.
Belum sampai lokasi, masih di pertengahan jalan, pihaknya di hadang massa SMB bersenjata bersenjata."Kami yang tidak ada senjata kabur dan kocar kacir,"katanya.
Heriyanto menyebutkan mobil truk milik warga sempat di tembaki SMB. " Mobil kita diberondong tembakan. Tapi untung selamat semua. Saya cuma mengalami luka sekit," sambungnya.
Menurut Hendriyanto, saat ini kawasan yang diduduki SMB tersebut memcekam. Apalagi saat malam warga yang desanya yang dekat dengan kawasan SMB tidak berani keluar. "Desa yang dekat sudah seperti desa mati. Warganya ketakutan," ucapnya.
Jangankan masyaraka biasa, Babinkantinmas dan Babinsa tidak diperbolehkan masuk ke area wilayah yang diduduki SMB . "Mereka (polisi) tidak berani. Apalagi kita," ujarnya lagi.
Hendrianto berharap pihak kepolisian serius menangani masalah SMB ini. Sebab anggota kelompok ini semakin merajalela. "Terkahir melakukan penyerangan ke tim terpadu termasuk tiga TNI luka dan Polisi juga dan tim damkar," katanya.
Menurut Hendrianto, kelompok SMB yang dipimpin Muslim sebagian merupakan warga pendatang dari berbagai daerah, baik dalam dan luar provinsi Jambi. "Sebenarnya sepengetahuan saya, tidak ada itu SAD. Hanya hitungan jari. Sebagian mereka dari Lampung, Medan, Tebo dan Palembang. Kalau asli Batanghari sudah pada sadar semua," pungkasnya.
Selain Hendrianto, massa SMB juga menyerang anggota Satgas Terpadu Karhutla di Camp Distrik VIII PT WKS, pada Sabtu (13/7) lalu. Ketika itu, Tim Satgas beru selesai memadamkan api di lahan konflik (milik PT WKS) yang sengaja mereka (SMB) bakar.
Tiga orang dilaporkan terluka dalam penyerangan itu. Dua anggota TNI dan satu orang Pemadam kebakaran (Damkar) PT WKS. Selain itu, kelompok pimpinan Muslim ini juga merusak camp Distrik VIII PT WKS wilayah Tanjab Barat. Seluruh karyawan terpaksa mengungsi menyelamatkan diri ke Distrik IV, yang masuk wilayah Batanghari.
Selaku Ketua Satgas Terpoadu Karhutla, Danrem 042/Gapu Kolonel Arh Elphis Rudy sangat marah atas kejadian ini. Menurut Elphis, kelompok SMB ini telah melakukan tindakan kriminalisme dan premanisme. Mereka sengaja membakar lahan padahal sudah dilarang dengan Perda dan Pergub.
Pembakaran ini jika dibiarkan dapat menjadi bencana kebakaran bagi Jambi. Mereka juga menggunakan senjata rakitan ilegal untuk melukai orang dan senjata ini dilarang karena bisa mematikan. Mereka juga memprovokasi, mengintimidasi dan menganiaya masyarakat dan berani menyerang aparat yang tidak bersenjata.
“Hukum harus di tegakkan, ini tidak bisa dibiarkan. Kita tidak boleh kalah dengan Premanisme,”tegasnya.
Sementara itu, Kapolda Jambi Irjen Muchlis AS sudah memberi ultimatum kepada pimpinan SMB, Muslim aga segera menyerahkan diri. Himbauan tersebut disampaikan Muchlis dalam pertemuan dengan perwakilan SMB saat meninjau lokasi penyerangan di Distrik VIII PT WKS pada Minggu (14/7) lalu.
Selain itu, Polda Jambi juga sudah mengamankan sejumlah barang bukti dari lokasi. Diantaranya CCTV yang diharapkan bias mengungkap siapa saja yang terlibat penyerangan. Namun, hingga kemarin belum ada perkembangan yang cukup signifikan dalam penanganan kelompok SMB tersebut. Informasinya, anggota Reskrim Polda Jambi masih di lapangan melakukan penyelidikan. (isw)